MAKALAH
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
HAKIKAT
PERKEMBANGAN ANAK DIDIK
DISUSUN OLEH :
NAIMATUNISA
10535543313
Jurusan
Bahasa dan Sastra Inggris
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Makassar
2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya, sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “HAKIKAT PERKEMBANGAN ANAK DIDIK”,
dengan tepat waktu.
Makalah ini kami susun guna
melengkapi tugas mata kuliah Perkembangan Peserta Didik. Selain itu, makalah
ini tidak hanya sekedar wacana, namun dapat menjadi wahana dalam mengembangkan
diri pada kehidupan sehari-hari. Dalam penyusunan makalah ini tidak sedikit
kesulitan yang kami temui, namun berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai
pihak, makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
“Tiada gading yang tak retak”,
begitupun dengan makalah ini. Maka dari itu, kritik dan saran konstruktif
sangat kami harapkan demi perbaikan penyusunan selanjutnya. Akhirnya penulis
tetap berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.
Makassar, 27 April 2014
Penyusun
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan
anak manusia merupakan sesuatu yang kompleks. Artinya, banyak faktor yang turut
berpengaruh dan saling terjalin dalam berlangsungnya proses perkembangan anak.
Baik unsur-unsur bawaan maupun unsur-unsur pengalaman yang diperoleh dalam
berinteraksi dengan lingkungan sama-sama memberikan kontribusi tertentu
terhadap arah dan laju perkembangan anak tersebut.
Banyaknya
aspek yang dibicarakan dalam membahas masalah perkembangan menyebabkan
banyaknya istilah dan konsep yang digunakan. Begitu pula banyaknya pandangan
dan teori dalam menjelaskan fenomena-fenomena perkembangan anak membuat semakin
kayanya pengetahuan tentang perkembangan anak.
Gambaran pembahasan tentang
perkembangan di atas menyarankan perlunya suatu cara penyajian yang runtut dan
cukup detail. Pada makalah ini, secara khusus akan diuraikan pengertian
perkembangan dan pertumbuhan serta beberapa isu pokok yang berkenaan dengan
topik tersebut. Selain itu, beberapa istilah pokok berkenaan dengan konsep
perkembangan yang akan digunakan dalam pembahasan-pembahasan selanjutnya juga
akan diperkenalkan dan dijelaskan pada makalah ini.
B. Rumusan Masalah
Dalam
makalah ini masalah yang akan di bahas diantaranya meliputi :
1. Apakah pengertian perkembangan
dan pertumbuhan?
2. Bagaimanakah anak sebagai suatu
totalitas?
3. Bagaimanakah perkembangan
sebagai proses holistik dari aspek biologis, kognitif, dan psikososial?
4. Apakah faktor kematangan ataukah faktor
pengalaman yang terutama mempengaruhi perkembangan individu?
5. Apakah perkembangan itu
merupakan sesuatu yang kontinuitas ataukah diskontinuitas?
C. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan adalah untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Perkembangan
Peserta Didik, selain itu juga ada beberapa tujuan diantaranya:
1. Memahami pengertian istilah
perkembangan dan pertumbuhan serta perbedaan di antara keduanya;
2. Memahami dan menyadari anak
sebagai organisme atau individu yang merupakan suatu totalitas;
3. Memahami perkembangan anak
sebagai suatu proses yang holistik antara proses-proses biologis, kognitif, dan
psikososial; dan
4. Memperoleh gambaran tentang isu
kematangan vs pengalaman dan kontinuitas vs diskontinuitas dalam perkembangan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perkembangan dan
Pertumbuhan
Dari
waktu ke waktu kehidupan manusia terus berubah. Berawal dari dua sel dasar
yaitu sel telur dan sperma, suatu organism tumbuh dan berkembang. Dua sel
tersebut kemudian membelah diri dan berdiferensiasi untuk menghasilkan
tulang-tulang, syaraf, otot, usus, otak, dan bagian-bagian organ tubuh lainnya.
Setelah kurang lebih sembilan bulan lamanya dalam kandungan ibu, organism yang
baru tumbuh tersebut akhirnya menjadi bayi manusia yang sempurna dan siap lahir
ke dunia dengan perangkat keterampilan hidup minimal yaitu bernafas,
menggerak-gerakkan tubuh, menangis, dan menyusu.
Meskipun
di saat lahir hanya berbekal seperangkat keterampilan minimal, melalui
interaksi dengan lingkungan (orang tua, saudara, orang dewasa lain, dan
objek-objek yang ada di sekitarnya) sang bayi terus lebih menyempurnakan diri.
Ia terus mengalami berbagai perubahan fisik baik dalam hal ukuran maupun
proporsinya. Berat dan tinggi badan bayi terus bertambah, begitupun proporsi
antara organ-organ tubuhnya – kepala, badan, kaki, tangan, dan organ-organ
lainnya—terus berubah menjadi lebih seimbang. Seiring dengan perubahan struktur
fisik, perilaku dan keterampilan bayi juga terus semakin beraneka. Dalam hal perilaku
motorik, misalnya mulai dari hanya bisa berbaring, kemudian mampu bergulir,
menelungkup, duduk, merangkak, berdiri, berjalan,dan akhirnya berlari.
Uraian
di atas mengilustrasikan adanya proses perubahan yang dialami oleh anak manusia
yang disebut dengan perkembangan (development). Perkembangan adalah pola
perubahan individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut
sepanjang hayat, demikian menurut Santrock & Yussen (1992). Namun tidak
setiap perubahan yang dialami organisme atau individu itu merupakan perkembangan.
Dengan
belajar, perilaku individu juga bisa berubah. Begitupun karena factor peristiwa
atau pengaruh penggunaan obat tertentu, individu juga bisa berubah. Untuk itu perlu
ada suatu penjelasan lebih rinci tentang perubahan yang dimaksud sebagai perkembangan.
Pertama,
perubahan dalam arti perkembangan terutama berakar pada unsur biologis
(Bjorklund & Bjorklun, 1992). Pengalaman-pengalaman atau
aktivitas-aktivitas khusus anak dapat menimbulkan perubahan pada diri yang
bersangkutan. Misalnya, seorang anak yang berlatih menari menjadi terampil
menari; anak yang belajar matematika atau berhitung menjadi mahir dalam
mengerjakan soal-soal hitungan. Perubahan-perubahan semacam itu bukan merupakan
perkembangan, melainkan lebih merupakan perubahan dalam arti belajar, yakni perubahan
yang lebih singkat dan merupakan fungsi langsung dari pengalaman-pengalaman khusus
yang diupayakan. Perubahan dalam arti perkembangan lebih berkaitan dengan fungsi
waktu dan kematangan biologis sehingga terjadi dalam periode yang lebih lama
dan bersifat umum, tidak terkait dengan peristiwa atau pengalaman khusus
tertentu.
Kedua,
perkembangan dapat mencakup perubahan baik dalam struktur maupun fungsi
(Bjorklund & Bjorklun, 1992) atau perubahan fisik maupun psikis (Abin
Syamsuddin Makmum, 1996). Perubahan dalam struktur lajimnya merujuk kepada perubahan
fisik baik dalam hal ukuran maupun bentuknya (seperti perubahan lengan, kaki, otot,
jaringan syaraf, atau bagian-bagian tubuh lainnya), sedangkan perubahan fungsi mengacu
kepada perubahan dalam hal aktivitas yang secara inheren terdapat dalam
struktur fisik tersebut (seperti kelenturan otot, keterampilan bergerak,
kemampuan berfikir, reaksireaksi emosional, dan perubahan-perubahan sejenis
lainnya). Dengan kata lain, perubahan struktur mengacu kepada perubahan wujud
jasadnya, sedangkan perubahan fungsi mengacu kepada perubahan aspek mental atau
aktivitas yang ditimbulkan sehubungan dengan adanya perubahan dalam jasad
tersebut.
Ketiga,
perubahan dalam arti perkembangan bersifat terpola, teratur, terorganisasi, dan
dapat diprediksi. Ini berarti bahwa secara normal, perkembangan individu
mengikuti pola-pola tertentu yang sudah dapat diketahui dan diperkirakan.
Misalnya, seorang anak
akan bisa duduk setelah bisa menelungkup, akan merangkak
setelah duduk, dan akan berjalan setelah merangkak. Lebih jauh dari itu, bahkan
waktu terjadinyapun dapat diperkirakan. Sebagai contoh, anak bisa duduk sendiri
pada sekitar usia 6 bulan, bisa merangkak pada sekitar usia 7 bulan, bisa berjalan
sendiri pada kira-kira usia 11-12 bulan, bisa mengucapkan kata pertama pada
sekitar usia 10-12 bulan, lebih menyenangi aktivitas simbolik pada kira-kira
usia sekitar 4-5 tahun, dan lebih menyenangi aktivitas permainan (games) yang
melibatkan aturan pada sekitar usia 7-8 tahun.
Keempat,
perkembangan dapat bersifat unik bagi setiap individu (Bjorklund &
Bjorklun, 1992; Santrock & Yussen, 1992). Santrock & Yussen (1992: 17)
menyatakan bahwa: “each of us develops in certain ways like all other individual,
like some other individuals, and like no other individuals”. Artinya, masing-masing
kita berkembang dalam cara-cara tertentu seperti semua individu yang lain,
seperti beberapa individu yang lain dan seperti tak ada individu yang lain. Di
samping adanya kesamaan-kesamaan umum dalam pola-pola perkembangan yang dialami
oleh setiap individu, terjadinya variasi individual dalam perkembangan anak
bisa terjadi pada setiap saat. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri
merupakan suatu proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsure yang
saling berpengaruh satu sama lain.
Kelima,
perubahan dalam arti perkembangan terjadi secara bertahap (Seifert &
Hoffnung, 1991) dalam jangka waktu yang relatif lama (Bjorklund & Bjorklun).
Maksudnya bahwa perubahan dalam arti perkembangan bukan merupakan perubahan
yang sifatnya sesaat, melainkan terjadi dalam suatu proses yang berlangsung
secara berkelanjutan dalam waktu yang relative lama.
Keenam,
perubahan dalam arti perkembangan dapat berlangsung sepanjang hayat dari mulai
sejak masa konsepsi hingga meninggal dunia (Santrock & Yussen, 1992;
Bjorklund & Bjorklun, 1992). Perkembangan tidak hanya terbatas sampai
dengan masa remaja, melainkan dapat berlanjut terus hingga seseorang meninggal dunia.
Ini juga berarti bahwa perubahan dalam arti perkembangan tidak hanya mencakup proses
pertumbuhan, pematangan, dan penyempurnaan, melainkan juga mencakup proses penurunan
dan perusakan.
Dengan
penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan dapat didefinisikan sebagai
pola perubahan organisme (individu) baik dalam struktur maupun fungsi (fisik
maupun psikis) yang terjadi secara teratur dan terorganisasi serta berlangsung sepanjang
hayat.
Di
samping istilah perkembangan, ada istilah lain yang sering dipertukarkan penggunaannya,
yaitu istilah pertumbuhan (growth). Istilah pertumbuhan juga
mengandung arti sebagai pola perubahan yang dialami oleh individu. Dalam
kenyataannya, kedua proses perubahan ini –perkembangan dan pertumbuhan—memang
sulit dipisahkan satu sama lain. Namun untuk kepentingan penjelasan dua istilah
tersebut dapat dibedakan.
Istilah
pertumbuhan (growth) dimaksudkan
sebagai perubahan dalam aspek jasmaniah seperti berubahnya struktur tulang,
tinggi dan berat badan, proporsi badan, semakin sempurnanya jaringan syaraf,
dan sejenisnya. Dengan kata lain, pengertian pertumbuhan itu lebih bersifat kuantitatif
dan terbatas pada pola perubahan fisik yang dialami individu sebagai hasil dari
proses pematangan. Dalam arti luas, menurut Witherington dan Hurlock (Abin
Syamsuddin Makmun, 1996), istilah pertumbuhan dapat mencakup perubahan secara psikis
kalau perubahan tersebut berupa munculnya sesuatu fungsi yang baru seperti munculnya
kemampuan berpikir simbolik, munculnya kemampuan berpikir abstrak, dan
munculnya perasaan birahi terhadap lawan jenis.
B. Anak sebagai Suatu Totalitas
Sebagai
objek studi psikologi perkembangan, anak dpandang sebagai suatu totalitas.
Konsep anak sebagai suatu totalitas sekurang-kurangnya dapat mengandung
pengertian berikut :
a. Anak adalah makhluk hidup
(organisme) yang merupakan suatu kesatuan dari keseluruhan aspek yangterdapat
dalam dirinya.
b. Dalam kehidupan dan
perkembangan anak, keseluruhan aspek anak tersebutsalin terjalin satu sama
lain.
c. Anak berbeda dari orang dewasa
bukan sekedar secara fisik, tetapi secara keseluruhan.
Sebagai suatu totalitas, anak dipandang
sebagai makhluk hidup (organisme) yang utuh, yakni sebagai suatu kesatuan dari
keseluruhan aspek fisik dan psikis yang terdapat dalam dirinya. Keseluruhan
aspek fisik dan psikis anak tersebut tak dapat dipisahkan satu sama lain.
Karena itu, anak juga dipandang sebagai individu. Istilah individu berasal dari
kata undivided yang berari tak dapat dipisahkan antara suatu bagian dengan
bagian lainnya.
Lebih
lanjut, konsep anak sebagai suatu totalitas atau kesatuan mengandung arti bahwa
terdapat saling keterjalinan atau keterikatan antara keseluruhan aspek yang
terdapat dalam diri anak. Keseluruhan aspek yang terdapat dalam diri anak
tersebut secara terintegrasi saling terjalin dan saling memberikan dukungan
fungsional satu sama lain. Sebagai misal, anak yang sedang sakit panas bisa
menjadi lain perilakunya(rewel); anak yang sedang marah bisa menangis
menjerit-jerit, anak yang sedang malu bisa kemerah-merahan pipinya, anak yang
sedang aktif melakukan berbagai aktivitas fisik bisa aktif pula kegiatan
mentalnya. Contoh-contoh tersebut mengilustrasikan adanya keterkaitan dan
keterpaduan dalam proses kehidupan dan aktivitas anak. Reaksi-reaksi psikis
anak selalu disertai dengan reaksi fisiknya, dan begitu pula sebaliknya.
Bila dibanding dengan orang dewasa, konsep
anak sebagai suatu totalitas juga mengandung arti bahwa perbedaan anak dengan
orang dewasa tidak terbatas secara fisik melainkan secara keseluruhan. Anak
bukan miniatur dari orang dewasa, tetapi anak adalah anak yang dalam
keseluruhan aspek dirinya bisa berbeda dari org dewasa. Secara fisik, anak
sedang mengalami pertumbuhan yang pesat, sebaliknya, fisik org dewasa sudah
relatif tidak berkembang lagi. Sementara anak cenderung didomoinasi oleh pola
pikir yang bersifat egosentrik, maka org dewasa sudah lebih mampu berpikir
empatik dan sosial. Begitu juga kalau daya pikir anak masih terbatas pada
hal-hal yang konkret, maka orang dewas sudah mampu berpikir abstrak dan
universal.
Demikianlah
pengertian anak sebagai totalitas, yakni sebagai suatu organisme atau individu
yang merupakan suatu kesatuan yang terintegrasi dari keseluruhan organ fisik
dan aspek psikis yang terdapat dalam dirinya. Keseluruhan aspek yang terdapat
dalam diri anak tersebut salin terjalin satu sama lain. Karena itu, perbedaan
anak dengan orang dewasa tidak hanya terjadi dalam aspek fisik atau fsikis,
melainkan secara keseluruhan.
C. Perkembangan sebagai Proses
Holistik dari Aspek Biologis, Kognitif, dan Psikososial
Sesuai
dengan konsep anak sebagai suatu totalitas. Perkembangan juga merupakan suatu
proses yang sifatnya menyeluruh (holistic). Artinya, perkembangan terjadi tidak
hanya aspek tertentu, melainkan melibatkan keseluruhan aspek yang saling
terjalin (interwoven) satu sama lain.
Secara
garis besar, proses perkembangan individu dapat dikelompokkan dalam tiga
domain; proses biologis, kognitif, dan psikososial (Santrock & Yussen,
1992; Seifert & Hoffnung, 1991). Ketiga proses perkembangan tersebut
merupakan sesuatu yang terpadu dan saling berpengaruh satu sama lain.
Proses-proses biologis atau
perkembangan fisik mencakup perubahan-perubahan dalam tubuh individu seperti
pertumbuhan otak, otot, sistem syaraf, struktur tulang, hormon, organ-organ
inderawi, dan sejenisnya. Perubahan-perubahan dalam cara menggunakan tubuh atau
keterampilan motorik dapat dikelompokkan kedalam domain proses pertumbuhan
biologis ini. Kedalam domain perkembangan ini juga termasuk perubahan dalam
kemampuan fisik seperti perubahan dalam proses penglihatan, kekuatan otot, dan
sejenisnya. Tetapi domain perkembangan ini tidak mencakup perubahan fisik
karena kecelakaan, sakit, dan
peristiwa-peristiwa khusus lainnya.
Proses-proses kogntif
melibatkan perubahan-perubahan dalam kemampuan dan pola berpikir, kemahiran
berbahasa, dan cara individu memperoleh pengetahuan dari lingkungannya.
Aktivitas-aktivitas seperti mengamati dan mengklasifikasikan benda-benda,
menyatukan beberapa kata menjadi satu kalimat, menghafal sajak atau doa,
memecahkan soal-soal matematika, dan menceritakan pengalam merefleksikan peran
proses kognitif dalam perkembangan anak.
Meskipun dalam prakteknya sulit
untuk dipisahkan, namun perlu dibedakan antara perkembangan kognitif dengan
perubahan dalam arti belajar. Perkembangan kognitif mengacu kepada
perubahan-perubahan penting dalam pola dan kemampuan berpikir serta kemahiran
berbahasa, tetapi belajar cenderung lebih terbatas pada perubahan-perubahan
sebagai hasil dari pengalaman atau peristiwa yang relatif spesifik. Selain itu,
perubahan-perubahan yang dipelajari sering kali terjadi dalam waktu yang
singkat, tetapi perkembangan kognitif terjadi dalam kurun waktu yang relatif
lama. Perkembangan kognitif anak dan pengalaman belajar ini sangat erat
kaitannya dan saling berpengaruh satu sama lain. Perkembangan kognitif anak
akan memfasilitasi atau membatasi kemampuan belajar anak, sebaliknya pengalaman
belajar anak juga akan sangat memfasilitasi perkembangan kognitifnya.
Proses-proses psikososial
melibatkan perubahan-perubahan dalam aspek perasaan, emosi, dan kepribadian
individu serta cara yang bersangkurtan dengan orang lain. Dengan demikian,
perkembangan identitas diri (self identity) dan krisis-krisis yang menyertainya
serta perkembangan cara dan pola hubungan dengan anggota keluarga, teman
sebaya, guru-guru dan yang lainnya dapat dikelompokkan kedalam domain
perkembangan ini. Senyuman bayi dalam merespon sentuhan dan sapaaan ibunya,
perilaku agresif anak terhadap teman bermain, rasa percaya diri dan keberanian
anak, perkembangan hubungan pertemanan diantara anak merefleksikan
proses-proses psikososial dalam perkembangan anak.
D. Kematangan vs Pengalaman dalam
Perkembangan Anak
Kematangan
(maturation) adalah urutan perubahan yang dialami individu secara teratur yang ditentukan
oleh rancangan genetiknya (Santrock & Yussen, 1992) dalam Amin Budiamin,
dkk ( 2006: 6). Dalam bahasan ini kematangan dipandang sebagai suatu pembawaan
(nature), yakni sebagai warisan biologis organisme yang dibawa sejak
lahir.
Di sisi lain, pengalaman (experience) merupakan
peristiwa-peristiwa yang dialami individu dalam berinteraksi dengan lingkungan.
Disini pengalaman dipandang sebagai unsur lingkungan, yakni sebagai
pengalaman-pengalaman environmental yang diperoleh individu dalam
kehidupannya.
Para ahli psikologi perkembangan yang menekankan unsur
kematangan atau pembawaan (maturationists) mengklaim warisan biologis
sebagai unsur yang paling mempengaruhi perkembangan anak. Sedangkan para ahli
yang mengutamakan unsur pengalaman menganggap pengalaman environmental sebagai
faktor yang paling penting dalam perkembangan anak. Akan tetapi, menurut kami
keduanya saling mempengaruhi satu sama lain terhadap perkembangan anak.
Menurut pandangan maturasional, pada dasarnya individu
berkembang dalam cara yang terpola secara genetik, kecuali kalau terganggu atau
terhambat oleh faktor lingkungan yang bersifat merusak. Rancangan atau struktur
genetik akan menghasilkan komunalitas-komunalitas dalam pertumbuhan dan
perkembangan individu.
Sebaliknya, kaum enviromentalists
menekankan pentingnya pengalaman dalam perkembangan anak. Unsur genetik
individu sekedar mewariskan potensi dasar, tetapi bagaimana hal itu tumbuh dan
berkembang sangat tergantung kepada makanan, gizi, perawatan medis, latihan,
dan pendidikan yang diberikan oleh lingkungan. Pendeknya, lingkungan dipandang
sebagai faktor yang paling berpengaruh terhadap perkembangan anak.
Di samping dua kelompok tersebut, ada pula para ahli
perkembangan (interacsionists) yang mempercayai bahwa hampir semua
kualitas fisik dan psikis individu merupakan hasil dari pengaruh pembawaan
lingkungan. Sebagai misal, tinggi badan anak tergantung kepada rancangan
genetik yang diturunkan orang tuanya (pembawaan), di samping tergantung
pula kepada gizi dan latihan yang diperoleh selama proses pertumbuhan
(lingkungan); perkembangan kognisi anak tergantung kepada taraf intelegensi
yang dimiliknya (pembawaan), di samping tergantung pula pada kualitas
pengalaman belajar yang diperoleh selama hidupnya (lingkungan); anak juga
secara biologis sudah terpogram untuk belajar bahasa (pembawaan), tetapi mereka
hanya akan belajar bahasa mereka.
Dalam prakteknya, menentukan kontribusi kematangan
(pembawaan) dan pengalaman (lingkungan) terhadap pertumbuhan dan perkembangan
individu secara pasti akan sulit untuk dilakukan. Kualitas aspek pertumbuhan
dan perkembangan yang sama bisa dihasilkan dari campuran pengaruh unsur genetik
dan keadaan lingkungan yang berbeda. Namun dalam kondisi tertentu, mengetahui
pengaruh relatif dari dua faktor tersebut kadang-kadang penting untuk
dilakukan. Misalnya, jika seorang anak memiliki bobot tubuh yang berlebih, maka
untuk menentukan treatment apa yang tepat, perlu diketahui terlebih
dahulu sumber-sumber yang menyebabkan bobot tubuh yang berlebih tersebut. Jika
ternyata hal itu disebabkan oleh unsur genetik, maka bentuk treatment-nya
akan lain dengan yang disebabkan oleh faktor lingkungan.
E. Kontinuitas vs Diskontinuitas
dalam Perkembangan
Isu
lain yang diperdebatkan oleh para ahli perkembangan adalah pernyataan apakah
perkembangan itu merupakan sesuatu yang berkesinambungan atau tidak
berkesinambungan. Para ahli menekankan pada unsur kematangan lazimnya
menganggap perkembangan sebagai serangkaian tahap yang berbeda.
Sebaliknya, para ahli perkembangan yang menekankan pada unsur pengalaman
menjelaskan perkembangan sebagai suatu proses yang sinambung.
Para ahli yang menekankan segi kesinambungan dalam
perkembangan menjelaskan bahwa perkembangan itu merupakan perubahan kumulatif
yang berlngsung secara bertahap dari masa konsepsi hingga meninggal dunia.
Perkembangan adalah perubahan yang sifatnya bertahap dan merupakan akumulasi
dari perilaku dan kualitas pribadi yang sama yang sudah diperoleh sebelumnya.
Dalam proses pengayaaan itu terjadi pengayaan, penambahan, dan
pengurangan melalui pengalaman atau interaksi individu dengan lingkungan. Jadi
di saat anak memperoleh tambahan perilaku atau keterampilan baru, ia
mengkombinasikan kembali perilaku atau keterampilan tersebut dengan yang sudah
ada untuk menghasilkan perilaku atau abilitas yang semakin kompleks.
Dalam perkembangan bahasa, misalnya dari anak agar
bisa mengucapkan suatu suku kata, kemudian satu kata, dua kata, dan seterusnya.
Menurut pandangan ini, kata pertama yang bisa diucapkan oleh anak sekalipun
sebenarnya merupakan hasil akumulasi dari pengalaman-pengalaman sebelumnya,
meskipun sepertinya merupakan peristiwa baru. Jadi, model perkembangan ini,
menempatkan perubahan kuantitatif, yakni unsur-unsur yang sudah ada dan lebih
secara esensial mengalami penambahan dengan unsur-unsur baru sehingga
menghasilkan kemampuan dan perilaku yang lebih kompleks.
Di sisi lain, para ahli yang menekankan segi
ketidaksinambungan dalam perkembangan menganggap bahwa proses perkembangan
individu melibatkan tahapan-tahapan yang berbeda. Setiap perkembangan individu
dianggap melalui suatu pola urutan perubahan yang berbeda secara kualitatif,
tidak sekedar berbeda secara kuantitatif. Dalam hal ini perkembangan individu
dianggap berlangsung melalui terjadinya perubahan-perubahan perilaku yang
relatif tiba-tiba dari satu tahap ke tahap berikutnya. Jadi, di sini terjadi
peristiwa transisi yang relatif tajam dari satu tahap perkembangan.
Para ahli yang mendukung pandangan diskontinuitas
biasanya beranggapan bahwa secara prinsip perkembangan diarahkan oleh faktor-faktor
internal biologis. Mereka menganggap bahwa kondisi yang berbeda dalam
perkembangan anak merefleksikan hakikat diskontinuitas dari perubahan-perubahan
yang terjadi. Dengan demikian, perkembangan melibatkan perubahn-perubahaan
kualitatif, bukan sekedar kombinasi-kombinasi sederhana dari
kemampuan-kemampuan atau perilaku-perilaku terdahulu. Sebagai contoh, deskripsi
tahap-tahap perkembangan berpikir anak dari Piaget seperti Sensori motor,
praoperasional, kongkret operasional dan formal operasional, menggambarkan
bagaimana perbedaan kualitatif (Diskontinuitas). Itu terjadi dalam
proses perkembangan berpikir anak. Tahap-tahap perkembangan berpikir anak
tersebut tidak sekedar menggambarkan padanya kemampuan yang meningkat dalam
berpikir, tapi lebih daripada itu ada perbedaan kualitatif yang signifikan
antara tahap-tahap tersebut.
Berkenaan dengan isu kontinuitas dan diskontinuitas di
atas, Emde & Harmon (Vasta,Haith & Miller, 1992) menjelaskan bahwa
persoalan melibatkan dua komponen yang diperdebatkan.
1.
Isu melibatkan penjelasan tentang pola-pola perkembangan.
a.
Para ahli teori kontinuitas meyakini bahwa
perkembangan itu terjadi secara halus dan stabil melalui penambahan atau
peningkatan bertahap dalam hal abilitas, ketrampilan, dan/atau pengetahuan baru
pada suatu langkah yang relatif sama.
b.
Para ahli diskontinuitas beranggapan bahwa
perkembangan terjadi pada periode-periode kecepatan yang berbeda,
berganti-ganti antara periode-periode yang hanya sedikit perubahannya dengan
periode yang tajam dan cepat perubahannya
2.
Pedebatan ini berkenaan dengan masalah keterkaitan perkembangan.
a.
Para ahli teori kontinuitas berpendapat bahwa
perilaku-perilaku awal secara bersama akan membangun dan membentuk
perilaku-perilaku selanjutnya atau sekurang-kurangnya perkembangan-perkembangan
awal itu memiliki keterikatan dengan perkembangan selanjutnya.
b.
Para ahli diskontinuitas menyatakan bahwa beberapa
aspek perkembangan muncul secara independen dari apa yang sudah muncul
sebelumnya dan tak dapat diprediksi dari perilaku-perilaku sebelumnya.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian pembahasan di atas kami
menyimpulkan bahwa:
Perkembangan adalah pola perubahan
organisme (individu) baik dalam struktur maupun fungsi (fisik maupun psikis)
yang terjadi secara teratur dan terorganisasi serta berlangsung sepanjang
hayat.
Pertumbuhan adalah perubahan dalam
aspek jasmaniah seperti berubahnya struktur tulang, tinggi dan berat badan,
proporsi badan, semakin sempurnanya jaringan syaraf, dan sejenisnya.
Perkembangan bersifat kualitatif,
sedangkan pertumbuhan bersifat kuantitatif (peningkatan dalam ukuran dan
struktur).
Adapun hal-hal yang berkaitan dengan
konsep ini diantaranya; anak sebagai suatu totalitas; perkembangan sebagai
proses holistik dari aspek biologis, kognitif, dan psikososial; kematangan vs
pengnalaman dalam perkembangan anak; kontinuitas vs diskontinuitas dalam
perkembangan.
B. Saran
Sebaiknya
kita sudah dapat mengerti apa yang dimaksud dengan perkembangan dan pertumbuhan
melalui makalah ini, untuk itu kita dapat menerapkannya di kehidupan
sehari-hari.
Sebaiknya kita harus berkembang
dan tumbuh mengikuti perkembangan zaman ini agar kita tidak terbelakang, tapi
perkembangan dan pertumbuhannya itu harus sesuai dengan kodrat kita sebagai
manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Ramdhini,
Rachmi. 2013. Hakikat Perkembangan Anak
Didik Usia Sekolah Dasar. [online].(http://momomiyami.blogspot.com/2013/05/hakikat-perkembangan-anak-didik-usia.html, diakses tanggal 27 April
2014)
Syaodih,
Ernawulan. 2012. Perkembangan Peserta
Didik Sekolah Dasar. [online]. (http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/196510011998022-ERNAWULAN_SYAODIH/PERKEMBANGAN_PESERTA_DIDIK_SD.pdf, diakses tanggal 27 April
2014)
Tim Penyusun Universitas
Muhammadiyah Makassar, Perkembangan dan
Belajar Peserta Didik. Makassar : Unismuh, 2009.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar